Dalam analisis pasar, anomali seringkali lebih berharga daripada tren. Tren memberitahu kita apa yang sedang bekerja; anomali memberitahu kita apa yang mungkin bekerja selanjutnya. Dan saat ini, di tengah pasar film Asia yang sedang berjuang, Indonesia adalah sebuah anomali yang sangat profitabel. Data dari media internasional seperti Screen Daily mengkonfirmasi apa yang sudah kita rasakan di lapangan: dengan 81 juta penonton film lokal di tahun 2024 dan dominasi 65% pangsa pasar, mesin domestik kita sedang menderu kencang. Faktor utamanya pun bukan rahasia: harga tiket yang sangat terjangkau dan volume produksi konten lokal yang tinggi. Ini adalah fondasi kita, mesin utama kita.
Dari fondasi ini, setidaknya ada dua “mesin pertumbuhan” tambahan yang mulai menunjukkan hasil yang terukur dan bisa direplikasi. Mesin Pertumbuhan #1 adalah Eskalasi & Ekspor Genre yang Terbukti. Berita akuisisi dua film horor kita, Pabrik Gula dan Perewangan, oleh platform premium Amerika, Shudder, adalah sebuah sinyal pasar yang sangat kuat. Ini membuktikan bahwa horor, aset kita yang paling likuid di pasar domestik, kini telah berhasil menjadi produk ekspor utama. Strategi yang paling logis adalah menggandakan investasi pada jalur ini: memproduksi horor berkualitas tinggi yang tidak hanya menakuti penonton di dalam negeri, tetapi juga dirancang sejak awal untuk memenuhi selera pasar horor global yang rakus. Ini adalah jalur pertumbuhan dengan risiko terendah dan skalabilitas tertinggi.
Selanjutnya, ada Mesin Pertumbuhan #2, yaitu Model Studio “Lean & Mean”. Wawancara dengan Ernest Prakasa tentang studionya, Imajinari, adalah sebuah cetak biru efisiensi yang seharusnya dipelajari oleh setiap pelaku industri. Dengan output yang terukur (dua film per tahun), biaya operasional yang ramping, dan fokus pada model creator-driven yang memotong jalur pengembangan yang panjang dan mahal, mereka secara konsisten menghasilkan produk dengan ROI (Return on Investment) yang luar biasa. Mereka membuktikan bahwa Anda tidak perlu menjadi raksasa untuk menang, Anda hanya perlu menjadi cerdas. Ini adalah model bisnis yang berkelanjutan dan antitesis dari model rumah produksi besar yang seringkali “gemuk” oleh biaya-biaya yang tidak perlu.
Sampai di sini, semuanya terlihat sangat positif. Kita punya fondasi yang kuat dan setidaknya dua mesin pertumbuhan yang berfungsi. Namun, masalah muncul ketika kita mulai mengalokasikan modal pada aktivitas ketiga yang saya sebut “Investasi Gengsi”: partisipasi masif di sirkuit festival internasional. Berita tentang Matta Cinema yang memamerkan enam proyek di Busan atau film Pangku yang mendapat sorotan di Cannes, secara inheren bukanlah hal yang buruk. Namun, sebagai seorang analis, saya wajib bertanya: berapa biaya akuisisi untuk “gengsi” ini? Berapa biaya untuk membawa delegasi, menyewa stan, dan melakukan promosi di sana? Dan yang terpenting, bagaimana “sorotan media” atau “tepuk tangan meriah” ini dikonversi menjadi pendapatan nyata, baik dalam bentuk penjualan tiket domestik maupun kesepakatan distribusi internasional? Saat ini, korelasi antara keduanya sangat lemah dan tidak terukur. Kita menghabiskan banyak bahan bakar untuk sebuah parade yang indah, tanpa tahu apakah parade itu akan membawa kita ke tujuan yang profitabel.
Model yang jauh lebih ideal adalah berhenti memperlakukan festival sebagai “panggung seni” dan mulai melihatnya sebagai “pasar B2B (Business-to-Business)”. Kesuksesan partisipasi kita di sana seharusnya tidak lagi diukur oleh jumlah artikel pujian yang terbit, melainkan oleh metrik bisnis yang keras dan konkret. Berapa banyak kesepakatan distribusi yang berhasil ditandatangani di market Busan? Berapa nilai total kontrak co-production yang diamankan? Berapa banyak investor internasional yang secara formal menyatakan minat untuk mendanai proyek kita berikutnya? Akuisisi oleh Shudder adalah contoh langka di mana aktivitas di sirkuit internasional ini menghasilkan sebuah transaksi finansial yang jelas. Inilah yang seharusnya menjadi tujuan utama, bukan sekadar gengsi.
Sayangnya, bahkan jika kita berhasil mengoptimalkan semua mesin pertumbuhan ini, kita masih harus beroperasi di atas sirkuit yang rusak parah. Inisiatif negara seperti festival ALIF atau kolaborasi dengan Prancis adalah upaya fasilitasi yang baik. Namun, secara bersamaan, ancaman regulasi sensor baru untuk platform OTT justru menciptakan disinsentif bagi inovasi. Ini adalah sinyal yang kontradiktif dari regulator. Lebih parah lagi, seperti yang ditunjukkan oleh berbagai analisis, dua masalah struktural kronis kita belum tersentuh: infrastruktur layar yang terbatas yang menyebabkan kanibalisme, dan regulasi HKI yang lemah yang membuat pembajakan terus merajalela.Maka, jika saya harus menulis sebuah memo kepada para investor di industri ini, rekomendasinya akan sangat jelas dan berurutan. Untuk mencapai proyeksi 100 juta penonton, alokasi modal dan energi kita harus diprioritaskan sebagai berikut: Pertama, Perbaiki Sirkuit. Lakukan lobi bersama untuk insentif pajak, percepatan penambahan layar, dan—yang paling mendesak—penegakan hukum HKI yang serius. Kedua, Skalakan yang Berhasil. Gandakan investasi pada model ekspor horor dan studio ramping yang sudah terbukti profitabel. Dan ketiga, Reformasi Pendekatan Festival. Ubah “investasi gengsi” kita menjadi model B2B yang terukur, di mana setiap dolar yang dihabiskan harus bisa dipertanggungjawabkan dengan metrik bisnis yang jelas. Jika tidak, kita hanya akan memiliki mesin-mesin balap terbaik yang terus-menerus tergelincir di sirkuit yang sama.
Tinggalkan Balasan